Sejarah Konsorsium Pengelolaan Hutan Tropis Berkelanjutan

Konsorsium Pengelolaan Hutan Tropis Berkelanjutan dibentuk berdasarkan SK Rektor Unlam No: 794/UN8.2/PL/2012 tanggal 24 April 2012. Terbentuknya Pusat Unggulan ini berawal dari adanya “Diskusi Insentif Pengembangan Pusat Unggulan IPTEK antara Deputi Kementrian Riset dan Teknologi dan Lembaga Penelitian Unlam” pada tanggal 20 April 2012.

Konsorsium ini merupakan diharapkan menjadi Pusat Unggulan untuk Koridor 3 wilayah Kalimantan, sesuai dengan 22 Kegiatan Ekonomi Utama MP3EI yaitu perkayuan. Terbentuknya konsorsium ini diharapkan dapat mengakomodir berbagai kegiatan atau kerjasama dari 3 (tiga) lembaga yaitu: Pusat Penelitian Pengelolaan Hutan Tropis Berkelanjutan di bawah koordinasi Lembaga Penelitian Unlam, Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristrand) Banjarbaru, dan Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru.

Konsorsium Riset Pengelolaan Hutan Tropis Berkelanjutan mempunyai visi yaitumenjadi pusat pengembangan pengelolaan hutan tropis dan produk hasil hutan secara berkelanjutan dan mampu menjadi acuan (center of excellence) bagi pengembangan pengelolaan hutan tropis dan produk hasil hutan secara nasional. Adapun misinya secara umum terutama menunjang pengelolaan hutan dan poduk hasil hutan melalui penelitian, pengembangan, pelayanan dan desiminasi. Melalui paket teknologi dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan diharapkan konsorsium riset ini dapat menjadi motor penggerak bagi pengembangan pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia.

Bidang-bidang yang terdapat pada Konsorsium PHTB tersebut di atas menunjukan dalam pengelolaan hutan harus dilakukan dari hulu ke hilir. Masing-masing bidang berhubungan satu sama lain dan saling menunjang.

Seperti diuraikan sebelumnya bahwa terbentuknya konsorsium tiga institusi ini terinspirasi untuk saling melengkapi dan mendukung kegiatan penelitian dibidang kehutanan, khususnya pengelolaan hutan dan perkayuan. Indonesia memiliki kawasan hutan tropis yang sangat luas, namun penelitian-penelitian yang menunjang untuk pelestarian hutan tropis masih sangat kurang. Sebagai ilustrasi pada era tahun 1970-1990 eksploitasi hutan hujan tropis di Kalimantan sangat besar sekali dan hanya sedikit memahami upaya untuk melestarikannya, sehingga hingga kini permasalahan-permasalahan lingkungan mulai muncul; seperti banjir pada saat hujan dan kekeringan pada saat musim kemarau.

Ditinjau dari sumber daya manusia, peneliti dan staf peneliti memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik tentang teknologi informasi, sehingga mudah dalam mengekses jurnal atau berbagai informasi lainnya secara online. Keadaan ini tentunya mendukung terhadap kemampuan SDM untuk terus berkembang, terutama dalam menulis artikel untuk jurnal dan tulisan ilmiah lainnya.

Penelitian yang dilakukan melalui Lembaga Penelitian Unlam oleh dosen-dosen yang aktif dari Konsorsium PHTB sudah sering dilakukan dari sumber dana Dikti, dari penelitian dosen muda, fundamental riset, hibah bersaing, MP3EI, hibah stranas. Namun untuk lebih mengembangkan PU ini masih perlu banyak membuka jaringan baik secara nasional dan internasional, sehingga wawasan keilmuan dan pengalaman lebih berkembang lagi. Sebagian peneliti pada Konsorsium Riset PHTB masih relatif muda atau usia produktif dimana masih sangat potensial dalam mengembangkan riset dan topik masalah penelitian juga masih sangat luas, terutama pada bidang perkayuan dan hutan tropis. Bidang ini seyogianya merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki Lembaga Penelitian Unlam. Potensi ini menjadi peluang dan harus ditingkatkan sebagai pendukung untuk melaksanakan perbaikan mutu pendidikan dan menjadi sumber informasi untuk bidang kehutanan dan perkayuan.

Balai Penelitian Kehutanan (BPK) setiap tahun melaksanakan riset berkaitan dengan pengembangan bibit tanaman hutan, teknologi pengembangan tanaman, pemilihan jenis tanaman, dan pengelolaan hutan. Sebagian hasil riset dan pengembangan teknologi yang dihasilkan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti: teknologi kopko sebagai media tanam, pengembangan bibit meranti, teknologi pemadaman kebakaran, dan system tebang rumpang.

Adapun Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand) hingga kini melakukan riset berkaitan dengan produk kayu dan non kayu, serta melakukan pengujian terhadap produk-produk tersebut. Baristand memiliki laboratorium yang bersertfikat SNI ISO/IEC 17025 : 2008 (ISO/IEC 17025 : 2005) untuk Kompetensi Laboratorium Pengujian dan Laboratorium Kalibrasi, sehingga hasil-hasil pengujian yang dilakukan sudah standard. Baristand juga memiliki pengguna dikalangan industry, sehingga hal ini sangat menunjang semakin berkembangnya Konsorsium Riset PHTB.

Keterbatasan dalam jumlah penelitian yang dipublikasikan menjadi permasalahan yang dihadapi oleh Konsorsium Riset PHTB. Dalam tiga tahun terakhir masih kurang, hanya 3 (tiga) judul untuk jurnal nasional terakreditasi, dan satu jurnal Internasional. Beberapa faktor yang dihadapi oleh anggota konsorsium dalam mempublikasikan hasil risetnya, antara lain: sebagian kemampuan yang terbatas dalam menulis karya ilmiah yang baik, sumber dana yang terbatas dalam mempublikasikan hasil riset dijurnal internasional, keterbatasan pengetahuan dan pemahaman tentang paten. Penguatan SDM dalam bentuk pelatihan atau kursus singkat sangat diperlukan untuk pengembangan konsorsium ini.

Konsorsium Riset PHTB ini ditinjau dari usia pembentukannya masih tergolong baru, tentunya banyak hal yang belum optimal bisa dilakukan, terutama mendatangkan pakar dari baik dari dalam maupun luar negeri. Mendatangkan pakar ini merupakan hal yang penting dalam pengembangan kegiatan riset. Yang telah dilakukan hanya pakar dari lingkungan sendiri, terutama dalam melakukan evaluasi terhadap berbagai proposal dan hasil penelitian. Beberapa peneliti memang memiliki kerjasama baik di dalam maupun luar negeri, sehingga sebetulnya peluang untuk mendatangkan pakar ini sangat besar, akan tetapi fasilitas pendukung untuk tempat kerja pakar tersebut belum tersedia dengan layak.

Peneliti yang berada di konsorsium riset ini sebenarnya dari segi kualitas sudah cukup baik, sebagian besar berpendidikan S2 dan S3, dan sebagian alumni dari beberapa perguruan tinggi terbaik di dalam dan di luar negeri. Keadaan ini sangat mendukung untuk mengikuti berbagai kegiatan ilmiah ditingkat nasional dan internasional.