Bitter Honey merupakan salah satu jenis madu yang dihasilkan dari hutan alam Kalimantan, khususnya dari daerah Loksado, Hulu Sungai Selatan, dihasilkan dari lebah hutan dengan sumber pakan nectar dari bunga tanaman hutan, yaitu Sungkai (Peronema Canescens).

Pada awal tahun 2015, madu ini diproduksi dan dikembangkan oleh Pusat Unggulan Iptek Konsorsium Riset Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (PUI KR PHB), sebagai salah satu produk unggulan dari hasil hutan non kayu. Rasa madu yang pahit menyebabkan madu ini diberi nama Bitter Honey. Secara rasa dan penampakan, madu ini menyerupai madu pahit dari daerah Pelawan (Bangka, Belitung), berasa pahit dan berwarna lebih hitam dibanding madu lain.

Sesuai dengan namanya, rasa madu yang berwarna hitam ini memang pahit, memberikan khas rasa madu yang berbeda dibandingkan dengan madu jenis lain yang umumnya mempunyai rasa manis. Rasa pahit dari madu ini didapatkan dari nektar bunga pohon sungkai dan juga bunga lain yang tidak dapat menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi oleh manusia.

Berdasarkan serangkaian hasil uji, yang telah dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, maka madu ini mempunyai beberapa keunggulan di banding madu biasa lain yang juga diproduksi dari daerah Loksado, Hulu Sungai  Selatan. Madu pahit mempunyai kandungan alkaloid yang cukup tinggi.

Hasil pengujian menunjukkan, bahwa kandungan senyawa anoksidan, anradang dan andiabetnya jauh melebihi madu biasa yang juga dihasilkan dari daerah Loksado, bahkan juga melebihi dari madu merek terkenal yang sudah beredar di pasaran.

Hasil Persyaratan Mutu Madu (SNI 01-3545-2013)

Jenis Uji Bitter Honey Madu Loksado
(Biasa)
Madu Terkenal
di Pasaran
Persyaratan
Akvitas enzim
Diastaser (DN)
5 5 4 Min 3
KA (% b/b) 16 39 15 Max 22
Gula pereduksi 75,7 75,6 75,3 Min 65
Keasaman 35 36 17 Max 50

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *